Rekam Jejak Tentang Perempuan Sederhana

Selamat datang di rumah mungil 'bayi imortal' seorang hawa bernama Andyna Sary.

Kenapa disebut 'bayi imortal'? Karena menulis seperti tertawa buat saya. Bukan hobi. Bukan profesi. Tapi kebutuhan diri.

Sadar akan hidup saya yang terlalu manis dan singkat, maka rugi rasanya jika tiap jejak saya tidak dijadikan imortal. Meski raga saya tidak abadi. Tapi jiwa saya bisa menjadi abadi. Caranya dengan menulis dan berbagi.

Selamat membaca, mengkritisi, dan menikmati.
Salam damai untuk negeri!!

Selebrasi Solid 16 Tahun Sheila on 7

Kalau ditanya band Indonesia mana yang paling jitu merangkum episode hidup, maka opsi saya jatuh pada Sheila on 7. Kalau ada musisi yang bermetamorfosis seiring pendewasaan karya selama nyaris dua dekade, pun saya menunjuk Sheila on 7. Kalau harus memilih simbolisasi apik barometer musik dalam negeri, dengan senang hati saya tetap memilih Sheila on 7. Dalam tudung perayaan ulang tahun ke-16, lima konco asal kota pelajar ini berhasil mempersembahkan kado termanis bagi para penggemarnya, Sheila Gank. Dengan segala keterbatasan daya ingat, izinkan saya membagi ulasan bersahaja konsernya berikut ini.

Sesuai dugaan, cukup banyak Sheila Gank yang sengaja berbondong-bondong datang dari luar Jogja, demi menyaksikan langsung perhelatan ini. Saya dan beberapa teman Gebrakers pun melewati perjuangan panjang saat harus berburu tiket kereta. Setibanya siang hari di lokasi, 18 Mei 2012, antrian penukaran tiket konser tidak kalah padat membanjiri area parkir. Kian malam, kian bermunculan spanduk-spanduk khas Sheila Gank dari berbagai daerah gagah berkibar; Jabodetabek, Purworejo, Padang, Makassar, bahkan Malaysia. Pesta besar, Kawan!

Sesuai garis besar konser bertitel 3 On 3 Concert. Selama 3 jam penonton disuguhi 3 sesi yang berbeda. Grand Pasific Jogja menjadi pembeda intimasi aksi panggung Sheila on 7 terdahulu dengan yang sekarang.

Sesi pertama berlangsung enerjik seperti sebuah pemanasan non stop. Aneka medley panjang dijahit solid membuat penonton tak henti berjingkrak ria. Ada yang masih ingat sampul album 7 Desember? Tata panggung pertama identik sekali dengan album ini. Syarat imaji membawa kita seolah berada dalam payung teduh, nuansa awan putih, menginjak semburat bumi kemerahan tempat manusia bermain dan berkreasi. Benar saja, Tentang Hidup yang diambil dari salah satu nomor dalam 7 Desember terpilih sebagai pembuka.

Banyak kompilasi tabrak hits pada sesi pertama. Misalnya ketika soundtrack film Titanic - My Heart Will Go On mendadak menjembatani intro Itu Aku. Dominasi koleksi lagu bertempo middle beat ditampilkan berturut-turut, seperti Segalanya, Yang Terlewatkan, Tunjukkan Padaku, Betapa, dsb.

Sheila on 7 tampil necis dengan tipikal kostum neat-classy. Contohnya Duta dengan vest dan blazer hitamnya, atau Eross dengan kemeja kotak-kotak preppy look. Adam tidak mau ketinggalan beraksi kocak break dance dengan topi ala rapper menjelang lagu Pemuja Rahasia. Singkatnya, sesi pertama seperti penyampaian pesan lugas. Betapa kekuatan magnetik lagu-lagu mereka selama 16 tahun sangat membumi bagi kita.

Kejutan sesi kedua sangat menggelitik. Penonton festival sempat kaget. Sebab posisi panggung berpindah 180 derajat ke area belakang. Tepat di antara penonton VIP yang terduduk manis. Disinilah saya bergidik gemetar ketika menoleh seisi Grand Pasific dipenuhi tak kurang dari 4500 manusia. The concert was FULL HOUSE!

Konsep acoustic unplugged dipilih sebagai upaya lebih mengakrabkan diri dengan Sheila Gank. Kostum pun berganti menjadi street-casual. Banyak lagu lama yang dibawakan begitu sederhana, namun justru melekat. Sebut saja Just For My Mom, JAP, Seandainya, Terlalu Singkat, Saat Aku Lanjut Usia, Berhenti Berharap, dsb. Mayoritas tema patah hati menyeruak di sini.

Manuver terbaik selama sesi kedua, menurut saya ada pada lagu Dan. Tepatnya ketika Brian, Eross, dan Adam hanya berbagi 1 buah gitar dimainkan berbarengan. Like three-some!

Kala menunggu masa pergantian menuju babak akhir, muncul beberapa video tape berupa kumpulan foto lucu perjalanan Sheila on 7 di layar. Bahkan kenangan bersama Sakti (mantan gitaris) dan Anton (mantan drummer) pun terasa hangat.

Lalu tibalah bagian pamungkas. Sesi 3 digebrak dengan dentuman super maskulin. Pilihan lagu-lagu super upbeat digeber tanpa henti. Senada dengan leather jacket yang dikenakan para personil. Rasanya tidak ingin berhenti meneriakkan Pede, Sahabat Sejati, Have Fun, Berlayar, Terimakasih Bijaksana, Seberapa Pantas, Hari Bersamanya, dsb.

Menjelang closing, Duta memanggil istri-istri dan anak-anak para personil bergabung ke atas panggung. Tak ketinggalan sejumlah kru dibalik kesuksesan mereka sejak era 90-an. Disinilah pertama kalinya saya menyaksikan keluarga besar Sheila on 7 berjejer komplit untuk tiup lilin kue ulang tahun bersama. Diiringi nyanyian Happy Birthday dari ribuan Sheila Gank. Oh and yes I was wiping my teardrops indeed.

Konser ditutup final dengan ajakan Melompat Lebih Tinggi dan mengenang Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Berbagai confetti balon, fireworks, sampai adegan Duta terjun moshing di tengah penonton festival. Semakin menyempurnakan selebrasi ulang tahun ini.

Sungguh suatu keberuntungan bisa menjadi saksi hidup momen musik malam itu. Semua lelah berjam-jam menembus perjalanan darat Jakarta-Jogja terbayar. An intimate music gigs. A delightful 16th anniversary. Teruslah berlayar, Sheila on 7.

Andyna Sary

24 Mei 2012

Photo by: Bayu Pamura, Gigsplay Indonesia, Hasief Ardiansyah, Rolling Stone Indonesia

Setahun kemarin. Aku menunggumu kembali usai penjelajahan pertamamu di Eropa. Bergetar girang bukan kepalang saat menyadari Kamu membaca berulang kali prosa karyaku disana. Menunggu setiap milisekon terlewati hingga senyummu tiba. Betapa aku masih mengingat semuanya. Masih menerbangkan kepak sayang untukmu tanpa jeda. Love squeeze you, Bodoh.

18 Mei 2012
Untuk Ibnu Hasyim Harunsyah
Coretan di Kereta Bengawan

Setahun kemarin. Aku menunggumu kembali usai penjelajahan pertamamu di Eropa. Bergetar girang bukan kepalang saat menyadari Kamu membaca berulang kali prosa karyaku disana. Menunggu setiap milisekon terlewati hingga senyummu tiba. Betapa aku masih mengingat semuanya. Masih menerbangkan kepak sayang untukmu tanpa jeda. Love squeeze you, Bodoh.

18 Mei 2012
Untuk Ibnu Hasyim Harunsyah
Coretan di Kereta Bengawan

(Source: l0venarry)

Terbius Konser “I Slank U”

“Tatap matamu ingatkan aku pada bintang. Terang menyinari bumi di sudut malam. Lihat senyummu khayali aku akan sampah. Tumbuh di benak hitamku naluri arak.”

Bait pertama lantunan “Lorong Hitam” terbalut legit oleh duo gitar akustik Bimbim dan Kaka. Salah satu lagu yang sangat jarang dibawakan pada konser Slank umumnya. Ini hanya sebagian dari rangkaian kejutan manis dalam pagelaran masif konser “I Slank U - The Journey of The Blue Island” pekan lalu. Ballroom Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, menjadi saksi berlangsungnya satu lagi aksi musik anak negeri yang berkelas dan pantas dibanggakan.

Nilai nominal untuk mendarat di ‘Pulau Biru’ kali ini memang terbilang jetset. Inilah pertama kalinya sepanjang 28 tahun eksistensi Slank, penjualan payu mencapai angka lebih dari satu juta rupiah per tiket. Harga itu terbayar dengan optimalisasi konsep prestisius berdurasi 3,5 jam. Menghadirkan pilihan gita terbaik dari rangkuman 19 album yang mereka punya. Menyuguhkan impresi bersama 80 pemain orkestra dan paduan suara. Menggandeng 3 Music Director sekaligus untuk meramu aransemennya.

“Tribute to Slank” dipilih sebagai pemanasan di bagian awal. Deretan musisi muda Indonesia tampil mengemas ulang hits jagoan band Potlot ini dengan karakter musik mereka masing-masing. NAIF membuka dengan ciri khas vintage rhythm mereka lewat lagu “Memang” dan “I Miss You But I Hate You”. Alexa mempersembahkan “Mawar Merah” dengan sentuhan ballad. Rasanya, tidak ada satu pun penonton yang tahan untuk tidak ikut teriak ”..ayaya..aaa..yayaya..” di bagian refrainnya. Selepas Sashi memilih “#1”, Kartika Jahja alias Tika pun meminta “Kirim Aku Bunga” dalam nuansa blues. Tak ketinggalan, band indie Pure Saturday turut mengepakkan “Koepoe Biru”. Namun favorit saya jatuh pada Dira Sugandi. Pernahkah Anda membayangkan “Fotoku Dalam Dompetmu” disajikan versi jazz? Yes. She did it brilliant that night.

Gebrakan Slank sendiri kali ini terasa powerful. Mereka muncul dalam tata kostum unik bergaya “Pretty Odd Rock ‘n Roll”. Penonton langsung diajak berjingkrak seketika dengan medley panjang “Pulau Biru”, “Bang Bang Tut”, dan bermain “Tong Kosong”. Deretan penyemangat nasionalis untuk generasi muda juga kental terasa saat “Mars Slankers”, “Lo Harus Grak”, “Jurus Tandur”, serta “Garuda Pancasila” berkumandang.

Istimewa bagi saya kala menyaksikan Bimbim bernyanyi solo memanggil “Bidadari Penyelamat”. Ia nanar menatap sebuah bola kristal gemerlap di atas kepalanya, yang tampak seolah seperti bintang. Terakhir kali melihat Bimbim membawakan lagu ini saya masih berumur 15 tahun. Malam itu, saya sudah 25 tahun. Namun sensasinya masih menggila.

Zona gundah. “Anyer 10 Maret” yang memang erat dengan suasana patah hati dirayakan dengan orkestrasi megah. Membaur bersama paduan suara di belakangnya. Hebatnya, denting melodi keyboard Ridho tetap berkarakter kuat. Merinding!

Berbagai kolaborasi apik juga memikat sekali. Vokal sopran Dira Sugandi, lengkingan tajam Kaka, dan brass section menjadikan “Ku Tak Bisa” terasa berbeda. Satu lagi lagu yang juga amat langka, “Reaksi Kimia”, meletup bersama Tika. Sedangkan kejadian lucu yaitu Kaka sengaja memakai lagi bajunya ketika hendak menjemput Eyang Titiek Puspa berdendang “Orkes Sakit Hati”. Katanya, duet sama orang tua mesti sopan. LOL!

Sebagai penutup, “Kamu Harus Pulang” dibawakan asyik dengan kocokan reggae. Plus Kaka mengantar “Terbunuh Sepi” dengan gimmick sayap kupu-kupu biru raksasa di punggungnya. Rasa-rasanya, sepanjang sejarah konser Slank, baru kali ini tidak muncul penampakan ‘bendera berkibar’ di tengah penonton festival. Oh ya, para Slankers Wangi yang datang bahkan didominasi gadis-gadis ranum dengan lipstick merah menyala. Hell to the yeah sexy.

Bagi saya pribadi, konser ini seperti napak tilas. Saya sudah jatuh cinta pada Slank sejak kelas 5 SD. Ada sebuah sudut dimana kumpulan Memorabilia Slank dipajang demikian elegan. Seperti penegasan betapa mereka telah menelan perjalanan panjang. Merekalah yang membuat saya melepaskan poster-poster boyband di masa puber (hehehe). Racikan “I Slank U” terasa seperti mengunyah red velvet cupcake. Manisnya pas, menggoda, bikin ketagihan, dan kenikmatannya sulit dilupakan. Seisi ballroom terbius mesra dan bernyanyi ceria. Angkat topimu dan katakan “I Slank U!!!!”


Andyna Sary

16 Mei 2012

Photo by: Ria Tanisa, Maria Cicilia Galuh, Slank.com

Someday I will be a beautiful butterfly and then everything will be better.

—Heimlich (A Bug’s Life - The Movie)

“Sketch Me If You Can”

The very 1st piece of sketch I’ve ever received in my life. I’m honored to declare that this is came from a delightful woman. A friend of mine named Erna Windarti.

Original photo by: Muhammad Rafki
Sketch by: Erna Windarti

“Sketch Me If You Can”

The very 1st piece of sketch I’ve ever received in my life. I’m honored to declare that this is came from a delightful woman. A friend of mine named Erna Windarti.

Original photo by: Muhammad Rafki
Sketch by: Erna Windarti

Cerita Setahun Lantai 8

“Hidup terlalu singkat untuk cuma dilewatin sama segala sesuatu yang gampang. Cari tantangan. GET OUT OF YOUR COMFORT ZONE!!

Begitu salah satu dari sedikit pesan Papa yang masih saya ingat. Pesan ini juga yang menjadi turning point, saat saya memutuskan untuk bergabung dengan keluarga besar MNC Media, Global TV.

Kalau mau ditimbang ulang, I was precisely in my comfort zone last year. Fun job as Public Relations. Surrounded by expatriates people. Disciplines on a regular and pretty much normal working hours. Bahkan bisa punya jadwal libur panjang rutin 4x dalam setahun. Poin terakhir itu sangat memudahkan saya mondar-mandir traveling tanpa harus memikirkan jatah cuti hehehe.

Rupanya jalan hidup berkata lain. Tuhan menjawab kilat permintaan saya suatu malam di bawah tebar bintang dan lautan Karimun Jawa. Ketika itu, saya membagi mimpi bersama 2 teman yang amat saya sayang. Bahwa betapa saya ingin serius menulis. Menuangkan ide-ide yang berserakan di kepala. Tidak berselang lama, sebulan setelahnya jalan itu terbuka. Saya memberanikan diri untuk pindah. Here I came up as the newbie Creative of Global TV Production team.

Disinilah sarangnya proses pembelajaran panjang. Lorong waktu bagi segala bentuk pekerja kreatif dalam industri media massa. Masuk ke dalam sebuah tim dengan banyak makhluk ajaib, gila, absurd, sekaligus jenius.

Saat remaja, nyaris setiap hari saya terkagum-kagum menatap layar dengan logo “MTV” di pojok kanan atas televisi. Kini, saya berkesempatan bekerja dengan orang-orang di dalamnya. Andai dunia tahu bagaimana lutut saya lemas dan gemetar saat harus melakukan script-briefing dengan VJ Utt. Yes, MTV Indonesia was my very first project back in the days.

Lalu datanglah Nickelodeon Indonesia Kids Choice Awards. Berbulan-bulan kami habiskan waktu dengan menggodok rentetan stage gimmick, performance list, nominasi, dan kecipratan SLIME. Oh ya, program ini juga yang bikin saya tiba-tiba mesti akrab sama Irfan Bachdim dan .. Spongebob Squarepants hahaha!!

STATION CAMP. TEENLICIOUS. JKT48 SCHOOL. Dan masih banyak lagi program lainnya. Mengikuti iklim kerja dengan segudang ilmu disini memang bukan perkara mudah. Alhamdulillah saya dikelilingi orang-orang yang luar biasa. Selalu ada hal-hal baru yang saya pelajari hampir setiap harinya. Ups and down, baby.

Lantai delapan Ariobimo Sentral Building itu seperti sekolah besar. Heterogensi karakter tumpah-ruah. Melebur dalam karya imajinasi audio visual. I do enjoy. I do love my job.

Atas semua rangkaian cerita dan rizki ini.

Terima kasih tak berkesudahan, Tuhan.

Andyna Sary

3 Mei 2012

Everyday, another new adventure. Every mile, another new zip code.

—Goofy • Walt Disney

“Early Birds”

Fotografer paling kejam sejagat sesungguhnya adalah Ikka Wuwiwa. Saya baru saja mulai tertidur usai lelah berenang malam di hotel tempat kami menginap. Tak sampai satu jam, saya sudah dibangunkan demi mengejar terbitnya matahari pagi di pesisir Mandalika. Walhasil, inilah wajah-wajah ‘bantal’ tidak mandi yang tetap harus berpose di depan kamera Ikka. Cekreekk!!!!

(left to right)
@dewi_1904
@andynasary
@LicHa_TeReSiA
Location: Nusa Tenggara Barat
Photo by: Ikka @wuwiwa

“Early Birds”

Fotografer paling kejam sejagat sesungguhnya adalah Ikka Wuwiwa. Saya baru saja mulai tertidur usai lelah berenang malam di hotel tempat kami menginap. Tak sampai satu jam, saya sudah dibangunkan demi mengejar terbitnya matahari pagi di pesisir Mandalika. Walhasil, inilah wajah-wajah ‘bantal’ tidak mandi yang tetap harus berpose di depan kamera Ikka. Cekreekk!!!!

(left to right)
@dewi_1904
@andynasary
@LicHa_TeReSiA
Location: Nusa Tenggara Barat
Photo by: Ikka @wuwiwa

“Gloomy Graduation”

Hari dimana saya wisuda tanpa kehadiran orang tua. Hari ketika saya harus tetap tersenyum sempurna. Hari itu juga saya berdoa. Kelak jika Tuhan berkehendak, saya ingin berusaha sekuat tenaga melihat anak saya memakai toga.

(left to right)
Dini Kinanti Pujiastuti
Aisyah Pratiwi
Andyna Sary

Occasion: Wisuda S1 Komunikasi Massa Angkatan 2007 FISIP UI
When: September 2010
Where: Balairung Universitas Indonesia, Depok

“Gloomy Graduation”

Hari dimana saya wisuda tanpa kehadiran orang tua. Hari ketika saya harus tetap tersenyum sempurna. Hari itu juga saya berdoa. Kelak jika Tuhan berkehendak, saya ingin berusaha sekuat tenaga melihat anak saya memakai toga.

(left to right)
Dini Kinanti Pujiastuti
Aisyah Pratiwi
Andyna Sary

Occasion: Wisuda S1 Komunikasi Massa Angkatan 2007 FISIP UI
When: September 2010
Where: Balairung Universitas Indonesia, Depok

Happiness is finding a pencil. Pizza with sausage. Telling the time. Happiness is learning to whistle. Tying your shoe for the very first time.

—“Happiness Is”
You’re a Good Man Charlie Brown (Snoopy)
Clark Gesner


“Beyond Grande Cliff”
(left to right)
Citra Kusumah Nur Rahmat @citra_knrFajar NF @faj_nfAndyna Sary @andynasaryEsta Majesta @maiaestaErna Windarti @ernawinLocation: Pantai IndrayantiPhoto by: Asrizal Sabri @Rizal_172

“Beyond Grande Cliff”

(left to right)

Citra Kusumah Nur Rahmat @citra_knr
Fajar NF @faj_nf
Andyna Sary @andynasary
Esta Majesta @maiaesta
Erna Windarti @ernawin
Location: Pantai Indrayanti
Photo by: Asrizal Sabri @Rizal_172

“Melompati Pelupuk Senja”

Location: Dermaga Pulau Genteng
Photo by: Ikka Wuwiwa @wuwiwa

“Melompati Pelupuk Senja”

Location: Dermaga Pulau Genteng

Photo by: Ikka Wuwiwa @wuwiwa


Masih ingat? Kamu punya 1001 trik menggelitik dan lucu. Salah satunya ketika Kamu riang menyanyikan lagu “Good Old Fashioned Lover Boy” milik Queen hanya untuk ku. Hapuskan penat baurkan haru. Lalu Kamu tutup dengan mengecup lembut bibirku manja. Aku merasa istimewa. Oh mungkin Kamu sudah lupa.

18 April 2012 Coretan di Perahu Kertas

Masih ingat? Kamu punya 1001 trik menggelitik dan lucu. Salah satunya ketika Kamu riang menyanyikan lagu “Good Old Fashioned Lover Boy” milik Queen hanya untuk ku. Hapuskan penat baurkan haru. Lalu Kamu tutup dengan mengecup lembut bibirku manja. Aku merasa istimewa. Oh mungkin Kamu sudah lupa.

18 April 2012
Coretan di Perahu Kertas

Barangkali pada terik matahari, di atas batuan cadas yang kau tapaki. Kau meyakini, jika pengorbananmu tengah diuji.

—Ujian Pendaki (Petualang Dari Blitar)

NADRENALINE: Catatan Petualangan Nadine Chandrawinata

“So, kalau beberapa kegiatan ekstrem masuk ke dalam bucket list kita, then do it as young as possible.”

Inilah impresi sederhana saya seusai melahap buku ketiga dari Nadine Chandrawinata. Nadrenaline judulnya. Merangkum penggalan dari begitu banyak petualangan alam bebas. Kota bersejarah dari berbagai negara. Penelusuran keanekaragaman budaya dunia. Catatan perjalanan gila pemicu adrenalin. Kecintaannya pada gunung. Hingga menyelami cantiknya taman bawah laut nusantara.

Buku ini semacam potret segar di antara buku bergenre traveling lainnya. Tidak ada rincian rute atau biaya penjelajahan dari awal sampai akhir, seperti kebanyakan buku yang sudah ada. Nadrenaline justru mengemas kepingan cerita unik, konyol, lucu, bahkan inspiratif dalam tiap bab. Semuanya disampaikan dalam tutur bahasa yang begitu ringan dan blak-blakan. Pun hampir di setiap halaman, ia menyelipkan dokumentasi pribadi saat berkeliling dunia sesuai cerita. Sehingga memudahkan kita untuk merasakan atmosfer serupa.

Siapa sangka, di balik paras cantik perempuan kelahiran Hannover ini, tersimpan begitu banyak pemikiran cerdas serta tekad kuat. Nadine bukan sekedar berkelana dari satu titik ke titik lain tanpa misi. Terutama soal penyelamatan wisata bahari alias laut Indonesia. Bagi Nadine, perlindungan terhadap aset terumbu karang, ikan hiu, lumba-lumba, sampai penyu, menjadi bagian solid yang tidak bisa dipisahkan. Contohnya saja saat ia menjamah Pulau Anano di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bersama rekan-rekan WWF dan Pemda Wakatobi, ia menjadi saksi mata lahirnya penyu-penyu hijau. Tepian pesisir kala pagi buta seketika haru-biru melihat 43 sarang telur penyu dan 5 sarang yang telah menetas.

Lebih dari itu, Nadine mengekspresikan jiwa muda penuh tantangan ke dalam mozaik penjelajahannya. Mulai dari mencoba bungee jumping, mencicipi kudapan kecoak, spontanitas mengendarai vespa di Itali, memandikan gajah angkatnya, menapaki dinginnya Himalaya, tidur di Stasiun Kolkata India, kena racun Bulu Babi, dan masih banyak lagi.

Bagi penggemar eksplorasi penjuru bumi, buku ini akan membuat Anda tersenyum, terharu, bahkan tertawa cekikikan selama membacanya. Be wild. Be traveler.

Andyna Sary

12 April 2012